
Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Kamis (5/7/2026). Kurs dolar AS tercatat menyentuh angka Rp17.324, memperlihatkan pelemahan rupiah yang semakin dalam di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kuatnya posisi mata uang AS.
Penguatan dolar terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi dunia, terutama setelah kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Kebijakan tersebut membuat investor global cenderung menarik dana dari negara berkembang dan mengalihkannya ke aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh tingginya permintaan dolar di dalam negeri, terutama untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri. Kondisi ini membuat suplai dolar di pasar domestik menjadi lebih terbatas sehingga nilai tukar rupiah semakin melemah.
Pelemahan rupiah sepanjang perdagangan hari ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang kembali mendorong permintaan terhadap dolar AS. Dolar menguat mendekati level tertinggi dalam sekitar satu setengah pekan, di tengah kebuntuan antara Iran dan Amerika Serikat serta belum terlihatnya kemajuan berarti dalam perundingan damai.
Ketegangan tersebut ikut mendorong harga minyak kembali menembus US$100 per barel, sehingga membebani sentimen pasar global.
Pengamat ekonomi menilai pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada kenaikan harga barang impor dan biaya produksi sejumlah sektor industri. Jika kondisi ini terus berlangsung, masyarakat dapat merasakan efek berupa naiknya harga kebutuhan pokok hingga bahan bakar yang memiliki keterkaitan dengan transaksi internasional menggunakan dolar AS.
Bank Indonesia (BI) sendiri disebut terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tidak mengalami pelemahan yang lebih tajam. Upaya tersebut dilakukan melalui intervensi di pasar valuta asing serta menjaga kestabilan likuiditas keuangan nasional.
Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan ekonomi global dalam beberapa waktu ke depan. Selama dolar AS masih berada dalam tren penguatan, rupiah diperkirakan tetap bergerak dalam tekanan.
Kondisi ini menjadi perhatian berbagai kalangan, terutama pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor. Mereka dihadapkan pada potensi kenaikan biaya operasional yang dapat memengaruhi harga jual produk di pasar domestik.